Home / KAJIAN / Adab Islami / Berkah Ilmu Karena Menghormati Guru

Berkah Ilmu Karena Menghormati Guru

Membaca berita guru memperlakukan murid secara sewenang-wenang memang membuat hati miris. Namun, membaca berita ada  murid atau wali murid memperlakukan guru sewenang-wenang gara-gara memberi sanksi atau memarahi tentu membuat hati lebih miris.

Anak-anak jaman sekarang banyak yang mempersepsikan guru hanya sebagai pekerja yang mendapat gaji sedangkan para murid adalah pemakai jasanya. Apalagi sekolah swasta di mana guru mendapat gaji dari biaya SPP. Murid pun beranggapan bahwa merekalah yang menggaji guru. Lalu mereke pun bertingkah seenaknya. Sedikit saja guru memarahi atau memberi sanksi, mereka lapor polisi atau wali murid datang mendamprat sang guru ke sekolah.

Berkah Ilmu pada Hubungan murid dan guru

Hubungan murid dan guru dianggap tak lebih dari hubungan pemakai jasa dan pemberi jasa. Seperti pasien dan dokter, pemilik mobil dan tukang servis bengkel atau pengunjung resto dengan pemiliknya. Hanya dianggap transaksional biasa. Guru memberi pelajaran, murid membayar SPP bulanan. Sedikit saja ada ketidakpuasan, pelanggan bisa bebas melakukan komplain.

Padahal hubungan guru-murid bukanlah transaksi sederhana. Bahkan tak bisa disebut transaksi karena uang yang dibayarkan tidak akan mampu membeli ilmu yang diterima. Terlalu murah jika ilmu yang diterima seorang murid hanya dihargai dengan gaji bulanan atau spp yang diberikan. Apalagi jika ilmu tersebut adalah ilmu agama. Harganya lebih tak ternilai.

Dalam Islam, kedudukan ilmu memiliki kemulian nomor satu. Ahli ilmu jauh lebih utam dari ahli ibadah. Bahkan jihad yang merupakan amal tertinggi dan terberat tidak boleh melalaikan aktifitas mencari ilmu. Harus ada sebagian orang yang belajar mendalami agamanya agar bisa menjadi pemberi peringatan dan pengajar bagi umat.

Bagi guru, murid adalah amanah. Sanksi yang diberikan hendaknya diberikan sesuai peraturan dan dalam batas wajar. Demikian pula ta’dib atau pengajaran dalam bentuk hardikan hendaknya tidak melecehkan kehormatan.

Adapun bagi murid, hak seorang guru atas dirinya jauh lebih besar. Murid harus menghormati dan memuliakan guru. Penghormatan yang sama atau bahkan lebih besar dari  penghromatan mereka terhadap orangtua. Imam Al Ghazali menjelaskannya dalam Al Ikhya’ (1/55). ”Hak para guru lebih besar daripada hak orang tua. Orang tua merupakan sebab kehadiran manusia di dunia fana, sedangkan guru bermanfaat bagi manusia untuk mengarungi kehidupan kekal. Kalaulah bukan karena jeri payah guru, maka usaha orang tua akan sia-sia dan tidak bermanfaat. Karena para guru yang memberikan manusia bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal.”

Akhlak Ulama Terhadap Guru

Sepertinya kita sudah lupa dengan akhlak para ulama terdahulu kepada guru-guru mereka. Lihatlah sejarah para ulama dan ilmuwan besar dalam Islam. Pada masa pendidikannya, para ulama dahulunya pasti adalah murid yang paling menghormati dan beradab terhadap gurunya. Para shahabat adalah murid-murid yang paling menghormati guru mereka, Rasulullah SAW.

Para ulama mazhab, imam Ahmad, Imam Syafi’I dan lainnya adalah murid-murid yang sangat menghormati para guru dan memuliakan mereka. Jangankan ramai saat diajar, murid Imam Syafi’I merasa segan meski hanya untuk minum air saat sedang belajar. Adapun Imam Asy Syafi’I menceritakan bahwa saking segannya terhadap gurunya, Imam Malik, ia membuka lembaran bukunya dengan sangat perlahan agar tidak berisik. Syaikh Utsaimin menasehatkan para murid agar duduk dengan duduk yang beradab, tidak membentangkan kaki dan tidak bersandar.

Tapi apa yang dilakukan anak-anak jaman sekarang terhadap sang guru? Sebagian mereka tidak segan membentak dan bahkan menantang gurunya.

Dalam hal ini, semestinya pra orangtua membantu dan mengajarkan kepada anaknya cara menghormati guru dan memuliakannya. Bukan malah menerima mentah-mentah laporan anak atas sanksi yang diterima lalu dengan mudah mendamprat guru di sekolah.

Guru adalah wakil orangtua saat di sekolah dalam mengajarkan berbagai ilmu kepada anak. Orantua harus ingat, Mengapa orangtua mengirim anaknya ke sekolah? Karena orangtua tidak mampu mengajar berbagai pelajaran di sekolah dan pesantren. Karena orangtua tidak sempat meski mungkin mampu, mengajar semua pelajaran di sekolah dan pesantren. Mereka pun menitipkan anaknya di sekolah kepada para guru. Lihatlah, para guru telah mewakili anda mencurahkan ilmu kepada anak anda sementara tugas anda lebih gampang; membayar.

Adapun guru, mereka tidak hanya berkewajiban dan dituntut mentransfer ilmu semata tapi juga mendidik kepribadian. Dan semua maklum bahwa mendidik kepribadian diperlukan instrumen berupa peraturan yang didalamnya biasanya tidak ada reward tapi hanya ada punishment berupa sanksi. Guru berkewajiban memberi tauladan yang baik sekaligus menjalankan instrumen tersebut.

Tugas itu tak hanya membebani pikiran tapi juga emosi. Wajar jika saat melaksanakan tugas, seorang guru kadangkala tak bisa menahan luapan emosi saat menghadapi murid yang bandel. Maka ketika orangtua menengar anaknya dimarahi sang guru, hendaknya orangtua bersabar dan menahan diri. Seorang guru hampir mustahil memarahi murid tanpa ada alasan. Dengarkan curhat si anak dengan bijak dan pastikan ia menceritakannya dengan jujur dan adil. Lalu, lakukanlah crosscheck jika perlu, barulah cari solusi jika memang ada yang tidak beres. Guru adalah ‘jelmaan’ anda (orangtua) saat di sekolah. Maka bersikaplah bijak kepada diri  anda sendiri.

 

About pptqluha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *