Home / Tazkiyatunnafs / AL QUR’AN, ANTARA MEMULIAKAN DAN MENGHINAKAN

AL QUR’AN, ANTARA MEMULIAKAN DAN MENGHINAKAN

Bersama Al Qur’an membentuk pribadi penuh kemuliaan

Banyak alasan yang dapat dinyatakan untuk menjelaskan kenapa pribadi akan mulia jikalau senatiasa bergaul dengan Al Qur’an. Sebagian diantara alasan tersebut antara lain yaitu Al Qur’an adalah Kalamullah yang Maha Mulia, Al Qur’an adalah firman yang dibawa oleh malaikat yang paling mulia, Al Qur’an itupun diberikan kepada Rasul yang paling mulia dan Al Qur’an juga diturunkan pada bulan yang mulia serta Al Qur’an itu pula diturunkan pada malam yang paling mulia. Dari sekian banyak kemuliaan yang membersamai Al Qur’an, pastilah siapa saja dan apa saja yang ada pada dan dekat dengan Al Qur’an akan turut terbawa mulia. Bi idznillah.

 

Dalam hal ini berlaku istilah “nunut mulia” bersama Al Qur’an. Kasus dalam persoalan nunut mulia ini misalnya adalah kain atau media yang digunakan untuk membuat kaligrafi atau kertas yang dibuat untuk mushaf Al Qur’an. Terhadap mushaf Al Qur’an, tentu seorang muslim akan memuliakannya dengan wujud pemuliaan tersebut misalnya tidak menaruhnya di sembarang tempat. Sejauh ini kita tidak pernah melihat mushaf Al Qur’an ditaruh di tong sampah, comberan atau tempat-tempat yang kotor. Bandingkan dengan koran, apalagi koran bekas tentu saja banyak kita temukan di tempat-tempat kotor atau semisalnya.

 

Gambaran tersebut di atas sekedar contoh kasus nunut mulia bersama Al Qur’an. Antara mushaf Al Qur’an dan koran sama-sama berbahan dasar kertas, tetapi sangat berbeda perlakuan orang terhadapnya. Hal ini juga berlaku untuk manusia, sama-sama manusia yang satu kepribadiaanya dihiasi dengan Al Qur’an (men-tadabburi dan mengamalkan) sedang yang lain tidak, pastilah kemuliaan antara keduanya jauh berbeda. Bahkan dia yang memuliakan Al Qur’an menjadi manusia yang dimuliakan para mukhlasin dan yang menghinakan Al Qur’an akan menjadi manusia paling hina, bahkan penduduk langit pun akan merendahkannya. Na’udzubillahi min dzalik.

 

Menghinakan dan memuliakan

Pada akhir tahun 2010, salahsatu negara bagian di Amerika Serikat dikejutkan dengan kecelakaan maut yang dialami oleh seorang pastur, Bob Old. Pada majalah berita Sky News dituliskan bahwa “Pastur Bob Old dari Tennesse Amerika Serikat yang minggu lalu membakar Al Qur’an tewas terpanggang dalam kecelakaan mobil yang fatal.”

 

Belum lama ini penduduk Indonesia juga digegerkan dengan tersebarnya video dari salah seorang Gubernur di salahsatu kota besar di Indonesia. Pada video tersebut ia menyebutkan, jangan mau dibohongi dengan surat Al Maidah: 51, atau senada demikian. Sontak video tersebut mendapatkan banyak kecaman dan protes dari kaum muslim di Indonesia, tanpa sadar pernyataan tersebut sama dengan melecehkan Al Qur’an, kitab suci umat Islam. Berangkat dari itu, reputasinya semakin anjlok, kepercayaan warga kepadanya hilang dan ia menjadi hina dihadapan manusia juga dihadapan Malail A’la.

 

Lain halnya dengan Ubay bin Ka’ab dan ‘Amr bin Salamah, tinta emas islam mengabadikan nama apik mereka. Kecerdasan ilmu Al Qur’an yang dimiliki Ubay menempatkan dirinya sebagai salahsatu sahabat Nabi. Ia adalah salah seorang sahabat yang dipercayai Nabi untuk menuliskan wahyu yang turun dari langit. Umar bin khaththab pun memuji ilmu yang dimiliki Ubay bin Ka’ab, “Ubay adalah pemimpin (guru Al Qur’an) kaum muslimin. Hatta, Allah menurunkan ayat yang berkenaan dengannya. [lihat Qur’an Surat Yunus: 58]

 

Imam termuda berusia sekitar 6-7 tahun, ialah ‘Amr bin Salamah. Diumurnya yang masih muda ia diangkat oleh masyarakatnya untuk menjadi imam sholat lantaran ialah yang paling paham dan paling banyak hafal Al Qur’an. Ia dimuliakan karena bersahabat dengan Al Qur’an, andaikata anak kita yang berumur 7 tahun hafizh Qur’an, apa yang akan didapatkan orangtua,? tiada lain pastilah kemuliaan dunia dan akhirat.

 

Itulah dua sisi yang dimiliki Al Qur’an, menghinakan dan memuliakan. Kemuliaan seseorang sangat tergantung dari perlakuan mereka terhadap Al Qur’an. Barangsiapa yang dekat dengan Al Qur’an ia akan mulia dan barangsiapa yang jauh dengan Al Qur’an ia akan hina. Berkenaan dengan hal tersebut senada dengan salahsatu Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابَ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آَخَرِيْنَ

 

“Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu masyarakat dengan Al Qur’an dan merendahkan lainnya juga dengan Al Qur’an.” [Hadits Riwayat Imam Muslim]

 

Allah ‘azza wa jalla juga menyampaikan dalam salah satu ayat Al Qur’an, yang artinya: “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” [Qur’an Surat Al A’raf: 176]

 

Sejarah, menuntun generasi semakin terarah

Karakter seseorang, satu keluarga, sebuah kelompok hatta suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh sejarah, kisah, dongeng atau legenda yang didengungkan padanya. Hematnya, sejarah bangsa adalah cermin karakter bangsa tersebut. Terkait dengan sejarah atau kisah, dalam Al Qur’an sendiri terdapat sepertiga kandungannya adalah kisah-kisah, dengan kata lain Allah menyampaikan dalam Al Qur’an kisah-kisah sebanyak sepuluh juz dari tigapuluh juz keseluruhan isi dalam Al Qur’an. Kisah-kisah dalam Al Qur’an penuh dengan keteladanan yang mampu membentuk karakter positif dalam pribadi seseorang. Dengan demikian keluarga atau kelompok yang ingin belajar keteladanan serta kemuliaan karakter hendaknya banyak belajar dari kisah-kisah dalam Al Qur’an.

 

  1. Kisah teladan anak shalih

Jika orangtua atau pendidik bermaksud mengajarkan pada putra-putrinya tentang kepatuhan dan bakti kepada orangtua, salahsatu kisah yang dapat disampaikan adalah kisah Nabi Ismail ‘alaihis sallam. Nabi Ismail ‘alaihis sallam adalah sosok anak yang sangat berbakti pada orangtuanya, sedemikian baktinya hingga rela dan sanggup untuk disembelih demi menaati ayahnya, Nabi Ibrahim Shallallahu alaihi wa sallam. Kisah tersebut Allah abadikan dalam Al Qur’an pada surat Ash Shaffat: 99-111.

 

  1. Kisah anak yatim yang sukses lagi mulia

Kisah kehidupan anak yatim nyaris identik dengan ketelantaran dan keterbelakangan serta minim dalam segala hal. Namun kisah dalam Al Qur’an mampu menginspirasi bahwa ternyata anak yatim pun punya hak untuk mendapatkan kesuksesan. Bahkan, manusia paling sukses yang mampu merubah keadaan dunia yang terselimuti pekatnya kemaksiatan dan kejahilan mampu menjadi teladan dunia, adalah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. [lihat surat Adh Dhuha: 1-11]

 

  1. Kisah teladan murid terhadap guru

Jika kita ingin mengajari murid-murid kita atau anak-anak kita tentang adab-adab mencari ilmu dan menghormati ulama, ceritakanlah kepada mereka tentang kisah Nabi Musa ‘alaihis sallam dengan seorang yang sholih (Nabi Khidir ‘alaihis sallam). [lihat surat Al Kahfi: 65-76]

 

  1. Kisah pemuda yang tegas dalam tauhid

Jika orangtua atau pendidik mengingini teladan dalam bertauhid, orangtua dapat menyampaikan kisah ashabul kahfi. Inilah kisah mereka yang disebutkan dalam Al Qur’an, Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula petunjuk untuk mereka.” “Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian (beribadah pada selain Nya) telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. “Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.” “Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” [Qur’an surat, Al Kahfi: 13-16]

 

Meraih surga dengan membentuk generasi Qur’ani

Hidup mulia mati masuk surga adalah cita-cita setiap muslim. Menurut petunjuk islam, hidup mulia dapat diraih dengan mengamalkan Al Qur’an dan mati masuk surgapun dapat diraih dengan mengamalkan Al Qur’an. Bahkan anak yang belajar Al Qur’an, menghafalkannya, memahami dan mengamalkan isinya, akan masuk surga bersama orangtua yang mengajarkannya Al Qur’an. Terdapat sebuah riwayat demikian;

 

ياَأيُّهاَ النَّاسُ عَلِّمُوْا أَوْلَادَكُمْ وَ أَهْلِيْكُمُ الْقُرْآَنَ فَإِنَّهُ مَنْ كُتِبَ لَهُ مِنْ مُسْلِمٍ يُدْخِلْهُ اللهُ الْجَنَّةَ

“Wahai manusia, ajarkanlah Al Qur’an pada anak-anakmu dan keluargamu, sesungguhnya barangsiapa ditetapkan sebagai muslim, Allah akan memasukkanya ke surga.” [mushannif ibnu abi syaibah]

 

Mengawali pembentukan generasi Qur’ani

Pembentukan generasi Qur’ani diawali dari dipilihnya calon ibu yang kelak akan mendidik generasi. Ibarat petani menanam padi yang ingin mendapatkan padi yang unggul, tentu langkah pertama adalah menyiapkan lahan sawah yang subur sebelum menyemaikan benih. Dengan peran hebat seorang ibu dalam pembentukkan generasi. Seorang ahli syair pernah berkata:

 

الأُمُّ مَدْرَسَةٌ الأُولَى إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعباً طَيِّبَ الأَعْرَاقِ

“Ibu adalah madrasah pertama (bagi anak). Jika kau persiapkan madrasah tersebut dengan sebaik-baik persiapan, maka akan terlahir generasi unggulan”

 

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

 

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ حَتَّى يَكُونَ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يَنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً

“Tidaklah setiap bayi yang lahir melainkan dilahirkan dalam kondisi fitrah, hingga kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi, sebagaimana binatang juga melahirkan binatang…” [Hadits Riwayat Imam Muslim, Syekh Albani mengatakan hadits ini shahih]

 

Mengingat besarnya peran ibu dalam pembentukkan karakter anak hingga karena itulah dikatakan ”ibu adalah madrasah pertama (bagi anak)”, namun seorang ayah tetaplah harus proaktif. Jika diibaratkan ibu adalah madrasah, maka ayah adalah kepala sekolah yang menentukan kurikulum didalamnya. Ayah harus menjadi pengarah setiap langkah dan gerak-gerik anak, ibarat kendaraan ayah adalah pengemudi yang senantiasa berhati-hati ketika mengendarai kendaraan.

 

Demikianlah luarbiasanya Al Qur’an, hadiah istimewa yang Allah berikan kepada umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam manusia generasi akhir zaman. Ia akan memuliakan dan menghinakan tergantung seperti apa kita berlaku kepadanya. Semua terserah kepada kita hendak kita jadikan mulia diri ini dengan Al Qur’an atau malah dihinakan. Wallahu a’lam bi showab

Oleh : Ust Arhab Yusuf

About pptqluha

Check Also

Sembunyikan Amal Jaga Keikhlasan

Dahulu Ali bin Al Husein biasa memanggul karung (makanan) di kegelapan malam untuk disedekahkan kepada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *