Home / Tazkiyatunnafs / Derajat Wanita Dalam Islam

Derajat Wanita Dalam Islam

DERAJAT WANITA DALAM ISLAM & KRISTEN

Dalam ruang debat lintas iman, khususnya antara Islam dan Kristen, berapa sering anda mendapati tudingan keras kepada Islam yang dianggap sebagai agama yang merendahkan derajat dan harkat kaum wanita, banyak sekali bukan. Para debater Kristen, tampak begitu yakin dalam melontarkan tuduhan-tuduhan tersebut tanpa pernah menyadari bahwa sesungguhnya Islam adalah ajaran yang paling menjunjung tinggi kehormatan wanita. Lantas, apakah penganut kristen mengetahui bahwa kitab mereka tidak menghormati wanita sebaik yang mereka kira?.

Alkitab menyalahkan perempuan atas dosa Nabi Adam ‘Alaihis Sallam, ada dalam Bab Ulangan 3: 6 disebutkan bahwa “Perempuan (Hawa) yang tergoda iblis untuk memakan buah pohon pengetahuan dan menyebabkan laki-laki (Adam) ikut memakan buah tersebut dan melanggar larangan Tuhan”. Juga dalam Bab Timotius 2:14 “Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”. Dan atas dosanya itu, menurut Alkitab perempuan pun dikutuk oleh Tuhan. Sebagai akibat dari dosanya tersebut, perempuan pun ditempatkan di bawah kekuasaan laki-laki.

Di lain Bab juga dikatakan Perempuan harus tunduk kepada suami seperti tunduk kepada Tuhan, Bab Efesus 5:22-24 “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu”. Tidak sebatas itu, bahkan perempuan tidak boleh menjadi pengajar, disebutkan dalam Bab 1 Timotius 2:12 “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.” Di atas adalah sebagian contoh kecil isi dari alkitab dalam memposisikan derajat dan harkat wanita.

Berbeda perlakuan Islam saat memposisikan kedudukan perempuan. Dalam islam, perempuan memiliki posisi penting yang tidak bisa disepelekan. Penghuni ka’bah pertama kali adalah wanita, beliau ibunda Hajar istri Nabi Ibrahim Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Manusia pertama yang memberikan seluruh harta bendanya untuk kepentingan dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah wanita, ibunda Khodijah istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Manusia pertama yang syahid membela wahyu yang diterima Nabi adalah wanita, Sumayyah Radhiallahu ‘anha, ibunda dari Amar bin Yasir. Manusia yang melindungi Nabi dalam perang Uhud sampai membuatnya jatuh tersungkur adalah wanita, Nasibah Radhiallahu ‘anha.

WANITA, MAKHLUK ISTIMEWA

Wanita adalah salahsatu makhluk yang paling banyak diberikan kenikmatan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla. Diantaranya kenikmatan tersebut yakni, ketika lahir ia sudah dipuji oleh Allah ‘Azza Wa Jalla,

وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ

“dan keistimewaan anak laki-laki tidaklah sama seperti keistimewaan anak perempuan.” [Qur’an surat ‘Ali Imran: 36].

Ayat ini turun memuji wanita karena sebelum turunnya ayat-ayat kebaikan yang meninggikan derajat wanita, wanita tidaklah bernilai, tidak mempunyai tempat dan sering dilecehkan. Sejak zaman Fir’aun, wanita memang dibiarkan hidup tetapi tidak memiliki tempat yang berarti dan tidak punya keistimewaan. Kemudian berbanding terbalik di masa jahilliyah, begitu bayi yang lahir adalah perempuan seketika langsung disingkirkan karena dianggap tidak ada nilainya dan seakan-akan menjadi aib dalam kehidupan keluarga. Kemudian, dalam masa dakwah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, turunlah wahyu yang memuliakan derajat kaum perempuan [lihat Qur’an Surat ‘Ali Imran: 36]

Beranjak dewasa, perempuan muslimah dijaga oleh Allah ‘Azza wa jalla dengan adanya syariat hijab [lihat Qur’an surat Al Ahzab: 59] ketika hendak menikah, para wanita diberi hadiah oleh Allah ‘Azza wa jalla melalui perantara para calon suami [lihat Qur’an surat An Nisa’: 4] setelah menjadi istri, Allah ‘Azza wa jalla memerintahkan laki-laki untuk tidak berlaku kasar kepada wanita [lihat Qur’an surat An Nisa’: 19] ketika telah menjadi seorang ibu, para wanita muslimah dimuliakan tiga kali lipat dibanding dengan ayah. Demikianlah islam memposisikan dan meninggikan derajat kaum wanita.

DUA KEWAJIBAN ISTRI SHOLIHAH

Ketika menjadi istri, tiap wanita muslimah pastilah bercitakan menjadi istri yang qurrota a’yun dihadapan sang suami agar bisa menggapai ridho Illahi. Menurut Al Qur’an sendiri, ciri-ciri istri sholihah secara umum yaitu dituntut untuk taat kepada suami selama dalam kebaikan menurut koridor syariat. Kemudian yang kedua adalah menjaga nama baik suami dan keluarga, terlebih ketika istri sedang tidak bersama sang suami.

فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ

“…. Sebab itu maka wanita yang shalihah itu, ialah mereka yang taat kepada Allah (melalui suami) lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah memelihara (mereka)….” [lihat Qur’an surat An Nisaa’: 34]

Pertama, taat kepada suami. Ketika sang suami meminta sesuatu kepada sang istri selama itu masih baik dalam pandangan Allah ‘Azza wa jalla. Maka sang istri wajib untuk taat kepada sang suami. Semisal, suami meminta istri membaca Al Qur’an, meminta istri untuk ikut kajian-kajian keislaman, meminta istri untuk menggunakan hijab ketika keluar rumah dan lain semisalnya maka sang istri wajib untuk taat mengikuti perintah sang suami. Setiap ada kebaikan dalam permintaan suami maka segera lakukan.

Namun ketika meminta dalam hal kemaksiatan maka tolaklah dengan perkataan yang lembut dan pelan-pelan. Semisal, sang suami meminta istri untuk membuka hijabnya walau sebentar saat menghadiri acara pesta, diajak untuk datang  ketempat-tempat yang kurang baik dengan tujuan buruk atau dalam bentuk lainnya, jawablah dengan pelan-pelan dan bahasa yang lembut serta tidak menggurui.

Kedua, menjaga nama baik sang suami dan keluarga. Kewajiban menjaga nama baik keluarga pada dasarnya adalah tugas bersama antara suami dan istri,

هُنَّ لِبَاسٞ لَّكُمۡ وَأَنتُمۡ لِبَاسٞ لَّهُنَّۗ

“… mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka….” (Al Baqoroh: 187)

Namun Allah ‘Azza wa jalla,  lebih menekankan agar istri menjaga nama baik suami dan keluarga, terlebih saat istri tidak bersama sang suami. Karena umumnya seorang wanita punya kecenderungan yang berbeda dibanding dengan laki-laki yaitu senang bercerita. Kemudian, ketika seorang perempuan sudah bersuami maka ia akan membawa nama, martabat dan pangkat sang suami. Taruhlah sang suami adalah seorang Lurah, secara otomatis sang istri akan dipanggil dengan sebutan Ibu Lurah, padahal yang menjabat Lurah adalah sang suami. Maka, Setiap rekam jejak baik buruknya istri pasti akan kembali kepada nama sang suami.

JADILAH ISTRI SHOLIHAH, ENGKAU DITUNGGU JANNAH

Wahai para muslimah, anda bisa mengambil suri tauladan dari istri-istri dan para putri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lihatlah bagaimana mereka berperilaku, bagaimana mengurus anak-anak dan mengurus anggota keluarganya, bagaimana harus belajar, apa saja yang mereka ketahui, bagaimana mengatur rumahtangga, bagaimana bertugas di luar rumah, bagaimana membawa diri di waktu bersama keluarga dan sewaktu berada diantara orang banyak dan lainnya yang berhubungan dengan masalah-masalah kehidupan berkeluarga.

Pada salahsatu syair dituliskan, “wanita muslimah sungguh sangatlah indah. Saat masa anak-anak ia mampu menarik orangtuanya ke surga. Ketika dewasa ia menyempurnakan separuh iman suaminya dan tatkala menjadi seorang ibu surga berada dibawah telapak kakinya.” Dalam salahsatu hadits juga disebutkan, Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dengan menyebutkan secara terperinci sifat-sifat wanita atau isteri yang sholihah.

خَيْرُ النِّسَاءِ مَنْ تُسِرُّكَ إِذَا أَبْصَرْتَ , وَ تُطِيْعُكَ إِذَا أَمَرْتَ , وَ تَحْفَظُ غَيْبَتَكَ  فِي نَفْسِهَا وَ مَالِكَ

 “Sebaik-baik isteri ialah yang menyenangkan-mu ketika engkau menatapnya, mematuhi-mu ketika engkau perintah; dan ketika engkau pergi, ia menjaga kehormatan-mu, yaitu dengan menjaga dirinya dan juga harta-mu”. (Hadits Riwayat Imam Ath Thabrânî.)

Lebih luarbiasa lagi, apabila seorang istri melakukan amalan-amalan yang bersifat wajib saja tanpa perlu dibebani dengan amalan-amalan sunnah, dijanjikan kepada mereka agar bisa memasuki surga dari pintu mana saja yang mereka suka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita (istri) selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

 

Walallahu a’lam bi showab. [Arhab Yusuf Adz Dzakiy Ibnul Jazuli]

About pptqluha

Check Also

AL QUR’AN, ANTARA MEMULIAKAN DAN MENGHINAKAN

Bersama Al Qur’an membentuk pribadi penuh kemuliaan Banyak alasan yang dapat dinyatakan untuk menjelaskan kenapa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *